Bisnis batik tradisional di era modern adalah sebuah bisnis dengan potensi besar.
Bagikan:

“Budaya bukanlah sesuatu yang diwariskan melalui gen” – Paulo Coelho

Pelestarian budaya bisa dilakukan oleh siapa saja. Dengan kecintaan yang mendalam terhadap sebuah budaya, setiap orang bisa melakukan usaha pelestariannya. Salah satu contohnya adalah terkait kecintaan budaya batik tradisional yang kini banyak diperlihatkan oleh warga negara asing. Terlebih lagi saat UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober 2009, sehingga Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Batik Nasional.

Fenomena ini tak hanya menjadi sarana untuk melestarikan dan mengenalkan budaya batik jadi lebih mendunia. Di waktu yang sama, popularitas tersebut juga memunculkan peluang bisnis yang sangat potensial. Peluang tersebut tak lain adalah bisnis yang melibatkan proses produksi serta pemasaran batik tradisional.

Batik Tradisional Bukan Hanya Milik Jawa

Selama ini, batik identik sebagai budaya Jawa. Padahal, Indonesia memiliki beragam jenis batik tradisional yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Ragam batik yang bisa dijumpai baik itu di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa memang sangat beragam. Bahkan, masing-masing kota di Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, ataupun Jawa Timur, punya ciri khas batik tersendiri.

Dari Kota Cirebon di Jawa Barat, kamu bisa menjumpai motif batik mega mendung yang menawarkan desain mewah dan trendi. Motif batik ini kerap hadir dengan warna yang mencolok. Sementara itu, motif batik parang jadi desain batik yang begitu terkenal di berbagai kota di Pulau Jawa. Dari belahan timur Jawa, ada motif gentongan yang jadi ciri khas batik dari Madura.

Beralih ke Pulau Kalimantan, kamu juga bisa mendapati motif batik yang tak kalah cantik. Di Kalimantan Selatan, ada jenis kain yang memiliki cara pembuatan mirip batik, disebut dengan kain sasirangan. Sementara itu, dari Kalimantan Tengah, ada kain batik yang dikenal dengan nama batik benang bintik. Motif batik dari Kalimantan, biasanya menawarkan warna yang mencolok seperti merah, oranye, ataupun hijau.

Menuju ke Padang, kamu bisa menemukan kain batik yang disebut dengan nama batik tanah liek. Kain batik ini memiliki ciri khas penggunaan tanah liat sebagai sarana pewarnaannya. Selain itu, motif yang bisa dijumpai pada batik tradisional Padang ini juga tak kalah beragam, termasuk di antaranya adalah motif kaluak paku, rangkiang, ataupun pucuk rebung.

Batik Tradisional Jadi Kebanggaan Tokoh Terkemuka Dunia

Popularitas kain batik dari Indonesia di luar negeri sangat tinggi. Bahkan, kebanggaan dalam mengenakan baju batik tak hanya diperlihatkan oleh orang-orang biasa, melainkan tokoh dengan pengaruh yang besar. Mereka pun dengan percaya diri mengenakan pakaian batik dalam acara resmi.

Kamu tahu mendiang Nelson Mandela, kan? Mandela jadi tokoh dunia yang memiliki kecintaan sangat besar pada baju batik tradisional khas Indonesia. Dalam aktivitas sehari-hari, Mandela kerap terlihat mengenakan batik. Bahkan, masyarakat Afrika Selatan memiliki julukan tersendiri untuk batik, yakni Madiba’s shirt atau busana Madiba, yang tak lain merupakan sapaan akrab dari Mandela.

Kate Middleton yang tak lain merupakan istri dari Pangeran Williams menjadi tokoh kekinian yang juga punya ketertarikan dengan baju batik. Bahkan, efek dari pemakaian batik yang dilakukan Kate begitu masif. Model baju batik yang digunakannya, langsung ludes hanya dalam hitungan menit. Hal ini memperlihatkan bahwa desain baju batik tidak kalah trendi dibandingkan dengan jenis kain lain.

Menjadi Pengusaha Sukses Sekaligus Melestarikan Budaya Batik Tradisional

Potensi bisnis yang besar dari batik tradisional itu sudah dibuktikan oleh banyak orang. Dengan rasa cinta tinggi terhadap budaya Tanah Air dan kemampuan berbisnis, mereka bisa tumbuh menjadi pengusaha sukses dengan penghasilan yang besar.

Sally Giovanny, wanita kelahiran 25 September 1988 jadi sosok yang bisa mengispirasi kamu untuk terjun di bisnis batik tradisional. Sally dikenal sebagai pendiri Batik Trusmi yang kini dikenal sebagai salah satu toko batik terluas di Indonesia. Lewat kegigihannya, Sally kini berhasil mempekerjakan sebanyak 850 karyawan. Di waktu yang sama, dia juga bekerjasama dengan lebih dari 500 pengrajin batik.

Lain halnya dengan pemuda Papua bernama Jimmy Affar. Meski tumbuh dan besar di Papua yang notabene bukan daerah penghasil batik, Jimmy punya kecintaan tinggi terhadap batik. Hasilnya, dia pun mengombinasikan unsur batik khas Jawa dengan budaya Papua. Omzetnya memang masih kecil, masih di kisaran belasan juta per bulan. Namun, keberadaannya bisa memberikan penghasilan tambahan untuk ibu rumah tangga di Papua.

Bagaimana? Tertarik mengikuti jejak Jimmy dan Sally menjadi pengusaha batik tradisional? Kamu juga bisa memulai usaha bisnis batik tradisional dengan cara yang tepat. Pegadaian menawarkan kredit angsuran bulanan Krasida untuk keperluan produktif dengan jaminan emas yang bisa kamu manfaatkan sebagai modal usaha. Kamu bisa mendapatkan modal sampai dengan 250 juta rupiah dengan jangka waktu pinjaman yang fleksibel. Dengan proses yang mudah dan cepat, pinjaman bisa kamu dapatkan 95% dari nilai taksiran agunan. Yuk, lestarikan budaya local lewat usaha batik tradisional!