Bagikan:

Konsumtif telah menjadi kebiasaan yang membudaya di Indonesia, kita masih merasa aman dan nyaman dengan hanya menjadi konsumen tanpa ingin ikut andil dalam sebuah proses produksi barang atau karya.

Pandji Pragiwaksono sebagai seorang stand up comedian pernah berkata “Yang membedakan kita dengan orang di luar negeri adalah mereka sudah terbiasa berkarya, sementara di sini (Indonesia) kita masih jadi generasi pekerja”. Kita kekurangan orang-orang yang berkarya.

Konsumtif berdasarkan KBBI berarti hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri, dan bergantung pada hasil produksi pihak lain. Berikut 5 penyebab gaya hidup konsumtif di masyarakat:

  1. Pengaruh Budaya

Gaya hidup konsumtif telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Buktinya, di negeri ini lebih banyak orang yang hanya gemar mengonsumsi daripada memproduksi sendiri berbagai barang yang dibutuhkan. Dengan alasan kepraktisan kita lebih memilih membeli apa yang sudah ditawarkan pasar, padahal peluang untuk membuat sesuatu dan dilempar ke pasaran masih sangat banyak.

Budaya konsumtif masyarakat Indonesia juga erat kaitannya dengan daya juang kita dalam berbisnis. Kita lebih senang bekerja untuk orang lain tanpa melihat peluang berkarya. Mental kita sebagai individu harus ditempa agar tidak hanya jadi generasi pekerja.

  1. Tuntutan Gaya Hidup

Banyak faktor yang memengaruhi gaya hidup konsumtif seseorang, di antaranya adalah pekerjaan dan lingkungan sosial. Untuk dapat diterima di lingkungan kerja atau  lingkungan pergaulannya, seseorang akan berusaha membuat standar hidup yang sama dengan orang-orang di sekelilingnya.

Misalnya saja ibu rumah tangga yang tinggal di perumahan elite. Dia akan merasa terdesak untuk tampil seperti ibu-ibu yang ditemui dalam acara kumpulan RT, syukuran tetangga, dan pengajian sekali pun. Sikap konsumtif pun akhirnya berpotensi muncul berjemaah.

  1. Terlena Media Sosial
Baca juga  Strategi Ketahanan Pangan Indonesia

Kedahsyatan media sosial tak hanya berefek pada kalangan muda. Kini, kegiatan media sosial yang mengasyikan dan melenakan waktu, sudah menembus lintas generasi. Tidak heran jika dari cucu hingga nenek masing-masing mempunyai minimal satu akun media sosial.

Daripada hanya digunakan sebagai media berekspresi dan mengunggah status, ada baiknya memanfaatkan media ini untuk mendapatkan penghasilan, yaitu melalui Facebook Ads.

Facebook Ads sebagai fasilitas beriklan untuk pengguna Facebook, dapat membantu penggunanya mengklasifikasikan target pasar usaha mereka, termasuk menentukan ingin menyasar kalangan usia yang mana.

  1. Haus Akan Pengakuan Diri

Bagi manusia yang terbiasa hidup bersosial pasti akan ada satu titik saat kebutuhan dasarnya telah terpenuhi, dia ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Ingin dihargai, diberikan perhatian akan keberadaannya. Pengakuan diri akan berujung pada sikap konsumtif ketika orang-orang mulai membelanjakan uangnya hanya untuk mendapat pengakuan.

Sadar atau tidak, terkadang kita sendiri pun membeli sesuatu bukan karena kebutuhan. Tapi, karena ingin meningkatkan kepercayaan diri. Sepatu orisinal keluaran merek ternama dengan harga jutaan rupiah pun akan Anda usahakan untuk bisa memilikinya, karena memang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Sikap konsumtif datang berbarengan dengan hasrat kita untuk mempercantik dan memperkeren penampilan. Dan hal tersebut kebanyakan kita dapat dari produk-produk luar negeri, padahal banyak pabrik di Indonesia yang membuat barang-barang untuk dijual di pasar Internasional dengan merek dagang buatan luar. Seperti sepatu dan kaos yang ternyata kita lebih bangga karena mereknya bukan karena pabrik pembuatannya yang berlokasi di Indonesia.

  1. Kemudahan Berbelanja

Dengan bermodal ponsel dan data internet, seseorang dapat menghabiskan gaji satu bulan kerja dalam waktu kurang dari satu menit tanpa beranjak dari kursi. Kemudahan bertransaksi yang kini kita rasakan berdampak pula pada intensitas berbelanja masyarakat yang semakin sering.

Baca juga  5 Keuntungan Servis Motor Secara Berkala

Dulu, untuk membeli satu barang incaran, kita harus berkeliling dari satu toko ke toko lain seharian penuh. Bahkan ada yang menundanya hingga esok hari bila belum puas dan belum menemukan yang pas di hati. Berbeda dengan sekarang, bisa hampir setiap hari jika masih ada saldo tersisa di rekening seseorang menghabiskan waktu dengan berbelanja online.

Dengan 5 alasan tersebut, gaya hidup konsumtif masyarakat menjadi tak terbendung. Saatnya kita juga melirik peluang usaha di tengah segala kesempatan yang ada dan yang paling dekat.