Bagikan:

Kisah inspiratif kali ini datang dari pebisnis boneka tanah air yang sempat mengalami PHK saat masih bekerja untung orang lain. Terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan berarti kiamat. Setidaknya itu yang dialami Nana Anang Sujana ketika PT Asiana Inti Industri, perusahaan pembuat boneka tempatnya bekerja, gulung tikar ketika krisis moneter mulai melanda Asia pada 1995.

Saat itu, situasi perekonomian di kawasan Asia memang sedang kacau. Nilai tukar rupiah pun mulai tidak stabil sehingga banyak perusahaan yang mengolah produk impor dan menjualnya di dalam negeri, tidak bisa bertahan. Kondisi di Indonesia semakin labil, situasi politik memanas. Akibat krisis, ribuan pabrik di Indonesia tutup. Ribuan
perusahaan gulung tikar. Dampaknya, ratusan ribu buruh jadi pengangguran. Pekerjaan baru begitu sulit dicari. Harga barang kebutuhan pokok tidak terkendali.

Pada saat seperti itulah, Anang ‘’terpaksa’’ menjadi pengusaha. Mengandalkan pengalaman dan kemampuannya selama bekerja di pabrik, Anang memilih berbisnis boneka. Dengan modal uang pesangon sebesar Rp5 juta, Anang
mendirikan usaha boneka dengan merek Hayashi Toys. Bisnis boneka dipilih karena tidak perlu belajar lagi. ‘’Yang saya tahu hanya boneka,’’ kata Anang. Anang mengerjakan produksi boneka dengan merek Hayashi Toys itu di kawasan Rawa Lumbu, Bekasi, Jawa Barat. Pemasaran boneka dilakukan dengan cara door to door ke berbagai toko mainan anak-anak di kawasan Bekasi dan Jakarta.

Usaha yang dilakukan karena ‘’kepepet’’ itu ternyata berhasil. Setiap kali Anang membuat boneka, setiap kali itu pula laku. Hayashi Toys menjadi merek boneka yang makin terkenal. Ketika usahanya sedang berkembang baik, badai krisis moneter yang melanda Asia pada 1995 mulai dirasakan dampaknya di dalam negeri. Situasi itu diperparah dengan krisis politik akibat jatuhnya rezim Orde Baru yang telah memimpin Indonesia selama 30 tahun.

Baca juga  Bisnis Jeans Ala H Ade Purnama

Hayashi Toys mencoba bertahan, tetapi gagal. Bersama ribuan perusahaan lain yang bernasib sama, Hayashi Toys pun ambruk. Tetapi Anang tidak patah arang. Anang mencoba untuk bangkit lagi.

‘’Yang membuat bangkrut adalah krisis ekonomi global. Pasar boneka sendiri terus tumbuh. Kalau situasi sudah berangsur normal, bisnis boneka akan tumbuh lagi,’’ kata Anang, pria kelahiran Bogor 5 Juni 1969 itu. Keyakinan Anang terbukti. Setelah situasi membaik, pesanan datang lagi. Bahkan dalam jumlah yang semakin banyak. Anang mulai kewalahan untuk memproduksi sendiri. Maka, direkrutlah bekas teman-teman kerjanya di pabrik boneka yang masih menganggur.

Anang sudah memiliki 17 toko boneka sendiri dan lebih dari 100 jaringan toko milik mitra yang tersebar di seluruh Indonesia pada tahun 2014. Selain itu, Anang juga menjual boneka melalui puluhan reseller yang mengandalkan sistem penjualan online. Boneka Hayashi Toys dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp5.000 per unit hingga ratusan ribu rupiah per unit. Karena pemasarannya sukses, Anang merekrut lebih banyak mitra produksi. Pada tahun 2014, jumlah mitra produksi Hayashi Toys berjumlah sekitar 400 orang. Mereka mengerjakan boneka secara berkelompok dalam 13 pabrik berskala rumah tangga, dengan kapasitas produksi mencapai ribuan unit boneka per hari. Anang mengungkapkan bahwa untungnya bisa Rp100 juta per hari.

Dengan keuntungan berbisnis boneka yang sedemikian besar, Anang memutuskan untuk fokus di bisnis boneka saja. Bisnis lain yang pernah dimasuki, kemudian ditinggalkan karena keuntungannya jauh lebih sedikit dibandingkan bisnis boneka. Dulu Anang pernah tergoda masuk ke bisnis properti karena mengira bisa meraih keuntungan yang tinggi mengingat harga tanah terus meningkat. Bisnis properti memang menguntungkan.

Tetapi perlu waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk menikmati keuntungan.

Baca juga  Berbisnis Sambil Berbagi

Penasaran dengan kisah lengkap Anang dalam merintis bisnis boneka ditengah kesulitan yang dihadapinya? Download segera ebook Semua Orang Bisa Sukses Part 3 yang berisi beragam kisah inspiratif dari pebisnis tanah air. Semoga bermanfaat!