gold-price-rise-2000-2012
Bagikan:

Terdapat dua alasan utama yang melatarbelakangi harga emas yang diprediksi akan selalu naik harganya.

Pertama, Penurunan Nilai Mata Uang Dollar AS (US$)

Emas merupakan produk yang diperdagangkan dalam satuan US$/ Oz, sehingga sangat terkait dengan fluktuasi nilai US Dollar. Dengan semakin lemahnya nilai uang US Dollar terhadap mata uang asing lainnya (termasuk rupiah), harga jual emas di pasar dunia pun meningkat. Krisis utang atau defisit anggaran AS mengakibatkan kondisi perekonomian AS mengalami kemerosotan dan kepercayaan investor pun hilang sebagai akibat turunnya peringkat kekuatan finansial AS yang ditetapkan oleh standard & poor (S&P). Krisis yang menyebabkan stagnasi perekonomian AS tersebut diperkirakan akan berlangsung lama.

Kemerosotan kepercayaan investor terhadap perekonomian AS tercermin dari turunnya nilai mata uang AS, pemilik modal baik perorangan, lembaga maupun negara yang memiliki cadangan devisa besar yang sebelumnya menyimpan assetnya dalam bentuk mata uang US$ mulai mengalihkan assetnya dalam bentuk emas karena dianggap asset yang paling aman untuk melindungi nilai kekayaannya.

 

Kedua, Pengaruh Permintaan Pasar Terhadap Emas

Permasalahan demand and supply juga terkait dengan sentimen negatif pasar atas perekonomian AS, dan memburuknya perekonomian di berbagai negara Eropa seperti Yunani, Portugal dan meluas hingga Italia dan Spanyol. Kekhawatiran investor ini mendorong mereka mengalihkan investasinya dalam bentuk emas. Kondisi ini mendorong melonjaknya permintaan emas melampaui kemampuan produksi emas dunia memenuhinya.

Sudah menjadi hukum ekonomi dimana ada keterbatasan supply sementara demand terus meningkat akan mendorong harga terus menanjak naik, berdasarkan data diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan stock emas tahunan di seluruh dunia hanya berada di kisaran 2 % pertahun.  Ini sudah merupakan total antara hasil tambang baru dan hasil emas recycles.

Permintaan akan emas terutama dari negara-negara yang semakin makmur seperti negara China , India dan Arab pada tahun 2009 sudah mencapai 102.000 ton,– jadi pertumbuhan kebutuhan emas mereka saja sudah akan sulit dipenuhi oleh pertumbuhan suplai emas dunia (freeport rata rata dalam satu tahun hanya mampu berproduksi 70 ton emas).  Padahal demand baru atas emas bukan hanya datang dari kebutuhan individu masyarakat China, India atau Arab untuk keperluan perhiasan atau mata uang Dinar , korporasi dan negara dengan Bank Sentral-nya dari seluruh dunia membutuhkan emas untuk safe haven mereka atau untuk mengkonversi cadangan devisa mereka dari bentuk US$ ke bentuk emas sebagai bentuk atas ketidak pastian ekonomi dunia atau keraguan atas kemampuan AS sebagai penopang mata uang US$.

Pembelian emas terbesar pada saat ini bersumber dari bank sentral berbagai negara yang berupaya mengalihkan cadangan devisanya dari mata uang US$ menjadi emas. Bank sentral Cina yang pada sekarang merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia semakin tidak percaya dengan sistem ekonomi dunia yang menggantungkan sistem nilai tukar terhadap mata uang US$ sehingga terus menambah cadangan emasnya untuk menjaga kekayaan negara.  Bila China akan terus meningkatkan cadangan emasnya mencapai rata-rata dunia yang  11.6% saja, maka bank sentral  China masih akan butuh tambahan sekitar 6,500 ton emas – suatu jumlah yang akan menyedot habis supply emas dunia dan dapat diprediksi kenaikan harga emas mencapai angka US$ 2000 / troy ounce segera tercapai.

Sikap yang ditempuh oleh Bank Sentral Cina pada umumnya akan diikuti oleh banyak negara dan jika dilihat dari konsep bahwa mata uang yang diterbitkan oleh suatu negara seharusnya didukung oleh cadangan emas yang setara, sebagaimana sistem ekonomi sebelum Bretton Woods maka dengan kemerosotan ekonomi AS dan sampai adanya keseimbangan baru atau adanya mata uang negara lain yang dapat menjamin nilai tukarnya, maka permintaan  emas akan selalu meningkat melampaui kemampuan produksi seluruh perusahaan pertambangan emas.